Perjumpaan saya dengan mas bakir Ketika itu Komunitas Tombo Ati sedang pentas orasi ruang bersalin, karya Nanda Sukmana. Saat itu beliau bermain dengan Alfi Rizqoh dan Madhi. kalau tidak salah di Tahun 2011. Sebelumnya saya cuma dengar namanya saja dari senior-senior di Teater Ringin Conthong. Tidak banyak yang saya ingat dalam pentas tersebut.
Baru pada tahun 2012 kita dipersatukan dalam pertunjukan semar gugat karya N. Riantiarno di sutradarai mbah guru Imam Ghozali ar. Saya yang masih ingusan waktu itu banyak sekali belajar dari aktor-aktor senior KTA, ada Pak Irul, Bu jati Utami, Nanda Sukmana, Babe Yuke, termasuk Mas Bakir juga.
Disitulah saya tahu kapasitas Mas Bakir sebagai aktor. Berperan sebagai Semar beliau begitu apik memerankannya. Kekuatan vocalnya begitu "ungkul" dibantu dengan olah tubuh yang mumpuni. Tokoh yang diperankan benar-benar hidup. Beliau yang bernama asli Firman Hadi Fanani memberikan ruh di pertunjukan tersebut.
Seiring berjalannya waktu kita sering berproses bersama terutama setiap KTA melangsungkan ibadah teater. Saya banyak berguru kepadanya terutama pada teknik pernafasan dan olah vocal. Seorang yang juga sebagai penyiar radio dan juga bekerja pada tenaga sosial ini. Karena saking akrabnya saya yang junior ini terkadang bersikap kurang ajar kepadanya.
Dalam ruang yang longgar kadang memang sering nyek-nyekan, gojlok-gojlokan. Saya biasanya "menyerangnya" dengan sebuah diksi ngriwik ae -- bila ada Ukhil malah ramai jadinya. Bukan tanpa alasan, ini saya lontarkan karena beliau ini memang sering mencereweti apapun yang dirasa tidak membuatnya nyaman. Satu yang menjadi cirinya ketika sudah kalah dalam adu argumen (baca : olokan) beliau pasti menyambar rokok siapapun. Bila sudah begitu suasana menjadi pecah.
Memang yang dilakukannya tak lebih dari komitmennya menjaga pertunjukan agar terlihat semakin baik. Dengan prinsip seperti itu beliau selalu menunjukan bahwa di panggung tidak sekedar "main-main". Beliau tidak mau terlihat asal-asalan. Mencereweti apapun yang tidak sesuai.
"Panggung teater itu sakral, aktor harus menghormatinya". begitu ujarmu kepadaku pada proses Anarkis Itu Mati Kebetulan karya Dario Fo yang juga proses berteater terakhirmu di panggung fana ini. Mas sekarang sampean pun tindhak. Semoga ibadah teatermu dan kebaikan lainnya diterima di sisi Alloh SWT. Terima kasih sudah menjadi guru bagiku. Panggungmu sekarang di Nirwana.
*Mada Pamungkas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar