Sabtu, 04 Juli 2015

CERPEN


Joni Bapak (tak) Pulang

‘‘Joni bapak pulang
Tolong jemput bapak
di stasiun dekat kecamatan
Ini sms hasil pinjam handphone orang yang satu gerbong dengan bapak ’’
Begitulah dikte bapak tua yang satu gerbong denganku, sembari memberiku nomer ponsel anaknya.  Agar aku segera mengirimkan pesan singkat kepada anaknya.
***
Gemuruh kereta pun lancang bersuara. Membawa manusia-manusia dalam gerbong untuk segera menemui perjumpaannya. Berjumpa dengan ayah, ibu, anak, istri, ataupun dengan siapa saja. Barangkali termasuk juga bapak yang disebelahku ini. Yang barusan meminta tolong kepadaku untuk mengirimkan pesan singkat kepada anaknya.
‘’Memangnya turun stasiun mana pak?” tanyaku memulai percakapan.
‘’stasiun B dek dekat kecamatan C, kira-kira masih melewati berapa stasiun lagi untuk sampai?’’. Jawab bapak itu dengan wajah penuh tanya. Dilihat dari pertanyaannya aku menduga bapak ini jarang atau bahkan tak pernah naik kereta. Ingin kutanyakan tapi untuk apa juga, sering tidaknya naik kereta bukan sebuah prestasi.
“ kurang lima stasiun lagi bapak, kira-kira nanti sekitar jam Sembilan bapak akan tiba”. Bapak itu pun cuma mengangguk tak meladeni jawabanku.
            Terlihat dari wajahnya kira-kira bapak ini lebih tua lima tahun dari usia ayahku. Posturnya tinggi besar. Rambutnya sudah penuh uban. Matanya sayu memerah ditopang dengan dagunya yang agak menjorok kedepan. Sekilas memang terlihat menakutkan. Dengan memakai kemeja lengan panjang warna hitam kombinasi abu-abu dan merah. Kuperhatikan kancing bajunya banyak yang sudah hilang, memakai sandal jepit lusuh penuh debu semakin pas dengan celana warna coklat penuh tambal sulam tepat dilututnya.
            “sudah ada balasan dek?” Tanya bapak itu tiba-tiba. Sembari kulihat handphone, sepertinya belum ada tanda ada pesan masuk. Dan benar saja tak ada pesan memang.
“belum ada pak, tapi pesan yang saya kirimkan kepada anak bapak sudah ada laporan terkirim, mungkin anak bapak masih repot”. begitu jawabku sembari memasukan handphone kedalam saku. “ya semoga saja” sergah bapak itu diikuti dengan tarikan nafas panjang.
’’ Adik ini mau turun mana? Tanya bapak itu kepadaku.
“ saya turun di stasiun C bapak”. Aku jawab pertanyaan yang menurutku telat itu.
“ kalau begitu duluan saya ya turunnya”.
“ iya pak, setelah bapak nanti turun selang satu stasiun giliran saya yang turun”.
 kereta melambat sembari meniupkan klaksonnya yang khas.
            Kereta berhenti di salah satu stasiun yang memang sudah dijadwalkan untuk disinggahi. Kesempatan ini tak disia-siakan para pedagang asongan untuk menjajakan dagangannya. Gerbong pun mulai ramai riuh oleh para pedagang. Para penumpang yang tadinya tidur dengan terpaksa harus bangun ketika para pedagang itu menitipkan dagangannya sebelum akhirnya diambil lagi bila tak ada yang membeli.
            Petugas stasiun sudah memberi aba-aba pada kereta untuk mlanjutkan perjalanan. Para pedagan tanpa dikomandani segera turun dari kereta. Memang sejak ada kebijakan dari pemerintah bahwa asongan tak boleh berjualan saat kereta jalan membuat mereka memanfaatkan momen ketika kereta berhenti. Kereta pun melanjutkan sisa perjalanannya.
            Para penghuni gerbong pun mulai lelap kembali. Termasuk bapak tua yang disampingku ini.
Dengan bersandar pada tempat duduknya ia berhasil menemui kantuknya. Kuperhatikan jam menunjukan pukul 20.15. sebentar lagi, barangkali kurang dua persinggahan distasiun bapak ini akan sampai ditujuannya. Bertermu anak istrinya, kerabat dan para tetangga yang mungkin telah menunggu.
            Bapak itu masih cukup lelap dalam tidurnya ketika kereta ekonomi ini berhenti di stasiun A. Sebentar lagi sampai pada stasiun B dimana bapak ini akan turun, begitu gumamku dalam hati. Melihat tidurnya yang cukup pulas aku merasa tak tega membangunkannya. Dari pada nanti kebablasan kan kasihan bapak ini yang sudah kangen dengan keluarganya. Aku nekat membangunkannya.
            “ Pak- bapak, bangun pak sebentar lagi akan sampai pada stasiun B” Sambil ku pegang pundaknya dengan sedikit goncangan kecil. Bapak itu menggeliat, punggungnya diluruskan pada sandaran kursi sembari membuka mata.
“sudah mau sampai pak” tambahku.
“ iya dek terima kasih sudah membangunkan, oh iya bagaimana dengan sms tadi apa ada balasan?”
“belum ada pak, ya mungkin anak bapak langsung menjemput bapak di stasiun”
“kalau begitu saya permisi dek, saya ke depan pintu saja biar nanti turunnya gampang”
“ silahkan pak, hati-hati”
            Bapak itu pun hilang berbaur pada orang-orang yang juga satu tujuan dengannya. Pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa selain pakaian lusuh? tak ada koper, tas ransel ataupun tas punggung biasa, bahkan kresek pun tak ada ditangan. Begitu aku menangkap peristiwa yang barusan terjadi. Lantas bagaimana nanti jika anaknya menanyakan perihal oleh-oleh, atau istrinya merajuk minta perhiasan emas. Semoga dugaanku salah.
            Yang utama barangkali bukan sesuatu yang berupa materi. Tapi sebuah perjumpaan yang sudah cukup lama tidak terjadi antara bapak itu dan keluarganya. Rindu yang sudah membuncah akan meletup di depan pintu rumah. Kereta melaju kembali, kali ini akan membawaku menuju perjumpaanku. Aku pastikan barang-barangku tak ada yang ketinggalan, meskipun hanya membawa tas dan sekardus mangga.
            Cuma butuh waktu 45 menit dari stasiun B ke stasiun C. Aku pun mulai membayangkan bapak tua tadi sudah bersenda gurau dengan keluarganya dirumah. Kereta mulai melambat. Segera aku berdiri dan bersiap menuju pintu keluar. Tak banyak penumpang yang turun sehingga memudahkan jalanku untuk mencapai depan pintu.
            Betapa kagetnya aku ketika di depan pintu, aku melihat bapak tua tadi ternyata belum turun. “ kenapa bapak masih disini?
“ apa bapak tadi terlambat turun? tanyaku menyelidik.
Sambil tersenyum bapak itu bilang
“ tidak, lebih baik saya ikuti saja kemana kereta ini pergi. Sampai titik akhir pemberhentian”
“ bapak ndak jadi pulang?”
“ ada hal yang kurang baik jikalau saya nanti pulang, biarlah saya tunda dulu”
            Klakson kereta berbunyi.
“ segerakan untuk turun dek, sebentar lagi kereta berangkat” pungkas bapak itu sambil lalu, masuk kembali ke gerbong kereta. Itu keputusan yang diambil, sudahlah mungkin itu memang keputusan yang paling baik pikirku.
            Kulangkah kan kaki ku untuk segera sampai pada parkiran. Segera mengambil motor lantas pulang. Setelah membayar parker kepada penjaga parker. Di saku kananku kurasakan ada yang bergetar, ternyata handphone ku berulah. Ada sms masuk dengan nomer baru. Penasaran aku buka ternyata isinya
“ bapak sudah sampai mana?
Joni sudah di stasiun.
Bapak jadi pulang kan?”


                                                                                   

Antara wonokromo dan sumobito



Tidak ada komentar:

Posting Komentar