Joni
Bapak (tak) Pulang
‘‘Joni bapak pulang
Tolong jemput bapak
di stasiun dekat kecamatan
Ini sms hasil pinjam handphone
orang yang satu gerbong dengan bapak ’’
Begitulah dikte bapak tua yang satu
gerbong denganku, sembari memberiku nomer ponsel anaknya. Agar aku segera mengirimkan pesan singkat
kepada anaknya.
***
Gemuruh kereta pun lancang
bersuara. Membawa manusia-manusia dalam gerbong untuk segera menemui
perjumpaannya. Berjumpa dengan ayah, ibu, anak, istri, ataupun dengan siapa
saja. Barangkali termasuk juga bapak yang disebelahku ini. Yang barusan meminta
tolong kepadaku untuk mengirimkan pesan singkat kepada anaknya.
‘’Memangnya turun stasiun mana
pak?” tanyaku memulai percakapan.
‘’stasiun B dek dekat kecamatan C, kira-kira masih
melewati berapa stasiun lagi untuk sampai?’’. Jawab bapak itu dengan wajah
penuh tanya. Dilihat dari pertanyaannya aku menduga bapak ini jarang atau
bahkan tak pernah naik kereta. Ingin kutanyakan tapi untuk apa juga, sering
tidaknya naik kereta bukan sebuah prestasi.
“ kurang lima stasiun lagi bapak, kira-kira nanti
sekitar jam Sembilan bapak akan tiba”. Bapak itu pun cuma mengangguk tak
meladeni jawabanku.
Terlihat dari wajahnya kira-kira
bapak ini lebih tua lima tahun dari usia ayahku. Posturnya tinggi besar. Rambutnya
sudah penuh uban. Matanya sayu memerah ditopang dengan dagunya yang agak
menjorok kedepan. Sekilas memang terlihat menakutkan. Dengan memakai kemeja
lengan panjang warna hitam kombinasi abu-abu dan merah. Kuperhatikan kancing
bajunya banyak yang sudah hilang, memakai sandal jepit lusuh penuh debu semakin
pas dengan celana warna coklat penuh tambal sulam tepat dilututnya.
“sudah
ada balasan dek?” Tanya bapak itu tiba-tiba. Sembari kulihat handphone,
sepertinya belum ada tanda ada pesan masuk. Dan benar saja tak ada pesan
memang.
“belum ada pak, tapi pesan yang saya kirimkan kepada
anak bapak sudah ada laporan terkirim, mungkin anak bapak masih repot”. begitu
jawabku sembari memasukan handphone kedalam saku. “ya semoga saja” sergah bapak
itu diikuti dengan tarikan nafas panjang.
’’ Adik ini mau turun mana? Tanya
bapak itu kepadaku.
“ saya turun di stasiun C bapak”. Aku jawab
pertanyaan yang menurutku telat itu.
“ kalau begitu duluan saya ya turunnya”.
“ iya pak, setelah bapak nanti turun selang satu stasiun
giliran saya yang turun”.
kereta
melambat sembari meniupkan klaksonnya yang khas.
Kereta
berhenti di salah satu stasiun yang memang sudah dijadwalkan untuk disinggahi.
Kesempatan ini tak disia-siakan para pedagang asongan untuk menjajakan dagangannya.
Gerbong pun mulai ramai riuh oleh para pedagang. Para penumpang yang tadinya
tidur dengan terpaksa harus bangun ketika para pedagang itu menitipkan
dagangannya sebelum akhirnya diambil lagi bila tak ada yang membeli.
Petugas
stasiun sudah memberi aba-aba pada kereta untuk mlanjutkan perjalanan. Para
pedagan tanpa dikomandani segera turun dari kereta. Memang sejak ada kebijakan
dari pemerintah bahwa asongan tak boleh berjualan saat kereta jalan membuat
mereka memanfaatkan momen ketika kereta berhenti. Kereta pun melanjutkan sisa
perjalanannya.
Para
penghuni gerbong pun mulai lelap kembali. Termasuk bapak tua yang disampingku
ini.
Dengan bersandar pada tempat duduknya ia berhasil
menemui kantuknya. Kuperhatikan jam menunjukan pukul 20.15. sebentar lagi,
barangkali kurang dua persinggahan distasiun bapak ini akan sampai ditujuannya.
Bertermu anak istrinya, kerabat dan para tetangga yang mungkin telah menunggu.
Bapak
itu masih cukup lelap dalam tidurnya ketika kereta ekonomi ini berhenti di
stasiun A. Sebentar lagi sampai pada stasiun B dimana bapak ini akan turun,
begitu gumamku dalam hati. Melihat tidurnya yang cukup pulas aku merasa tak
tega membangunkannya. Dari pada nanti kebablasan kan kasihan bapak ini yang
sudah kangen dengan keluarganya. Aku nekat membangunkannya.
“
Pak- bapak, bangun pak sebentar lagi akan sampai pada stasiun B” Sambil ku
pegang pundaknya dengan sedikit goncangan kecil. Bapak itu menggeliat,
punggungnya diluruskan pada sandaran kursi sembari membuka mata.
“sudah mau sampai pak” tambahku.
“ iya dek terima kasih sudah membangunkan, oh iya
bagaimana dengan sms tadi apa ada balasan?”
“belum ada pak, ya mungkin anak bapak langsung
menjemput bapak di stasiun”
“kalau begitu saya permisi dek, saya ke depan pintu
saja biar nanti turunnya gampang”
“ silahkan pak, hati-hati”
Bapak
itu pun hilang berbaur pada orang-orang yang juga satu tujuan dengannya. Pulang
ke rumah tanpa membawa apa-apa selain pakaian lusuh? tak ada koper, tas ransel
ataupun tas punggung biasa, bahkan kresek pun tak ada ditangan. Begitu aku
menangkap peristiwa yang barusan terjadi. Lantas bagaimana nanti jika anaknya
menanyakan perihal oleh-oleh, atau istrinya merajuk minta perhiasan emas.
Semoga dugaanku salah.
Yang
utama barangkali bukan sesuatu yang berupa materi. Tapi sebuah perjumpaan yang
sudah cukup lama tidak terjadi antara bapak itu dan keluarganya. Rindu yang
sudah membuncah akan meletup di depan pintu rumah. Kereta melaju kembali, kali
ini akan membawaku menuju perjumpaanku. Aku pastikan barang-barangku tak ada
yang ketinggalan, meskipun hanya membawa tas dan sekardus mangga.
Cuma
butuh waktu 45 menit dari stasiun B ke stasiun C. Aku pun mulai membayangkan
bapak tua tadi sudah bersenda gurau dengan keluarganya dirumah. Kereta mulai
melambat. Segera aku berdiri dan bersiap menuju pintu keluar. Tak banyak
penumpang yang turun sehingga memudahkan jalanku untuk mencapai depan pintu.
Betapa
kagetnya aku ketika di depan pintu, aku melihat bapak tua tadi ternyata belum
turun. “ kenapa bapak masih disini?
“ apa bapak tadi terlambat turun? tanyaku
menyelidik.
Sambil tersenyum bapak itu bilang
“ tidak, lebih baik saya ikuti saja kemana kereta
ini pergi. Sampai titik akhir pemberhentian”
“ bapak ndak jadi pulang?”
“ ada hal yang kurang baik jikalau saya nanti pulang,
biarlah saya tunda dulu”
Klakson
kereta berbunyi.
“ segerakan untuk turun dek, sebentar lagi kereta
berangkat” pungkas bapak itu sambil lalu, masuk kembali ke gerbong kereta. Itu
keputusan yang diambil, sudahlah mungkin itu memang keputusan yang paling baik
pikirku.
Kulangkah
kan kaki ku untuk segera sampai pada parkiran. Segera mengambil motor lantas
pulang. Setelah membayar parker kepada penjaga parker. Di saku kananku
kurasakan ada yang bergetar, ternyata handphone ku berulah. Ada sms masuk
dengan nomer baru. Penasaran aku buka ternyata isinya
“ bapak sudah sampai mana?
Joni sudah di stasiun.
Bapak jadi pulang kan?”
Antara
wonokromo dan sumobito