Senin, 24 Februari 2025

BARNAWI DAN POHON KEKASIHNYA

        Malam itu benar-benar sepi, jalanan lengang, basah akibat sisa hujan sore, lampu-lampu jalan berkedip-kedip kehabisan tenaga surya. Sayup-sayup kendaraan dari jalan besar terdengar, menambah kesan bahwa malam itu Desa Rubuhan tidur lebih awal. Suara kodok dan jangkrik mesra beradu bagai paduan suara. Serasa dihipnotis. Orang-orang menjadi malas untuk keluar rumah. Tidur adalah jalan terbaik. 

        Tidak seperti biasanya memang kampung ini tidur lebih awal, biasanya masih ada beberapa orang diteras rumah saling bercengkerama atau di warung-warung juga masih ada manusia-manusia yang sekedar menunggu kantuk sambil main kartu. Tapi tidak dengan Barnawi, suasana seperti ini lah yang dia cari, amatlah senang jika ia menjumpai kesepian. Tanpa ragu walau dingin menyerang ia keluar dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek di bagian lutut. 

        Tanpa memakai sandal. Tubuhnya yang kekar, raut wajah yang lebih tua dari usianya, rambut panjang keriting lusuh, berjalan sepanjang malam, tidak lupa rokok menyala di mulutnya. Tidak ada yang dia kerjakan malam itu, hanya berjalan saja, dari jalan utama desa menuju gang-gang kecil, mondar-mandir begitu saja. Sampai pada waktu yang ia tentukan sendiri. Biasanya menjelang jam tiga pagi. Pada saat itu dia harus menuju sebuah tempat yang ia senangi, di bawah pohon randu alas di ujung desa. 

        Pohon itu katanya sudah ada sebelum desa ini ada, bagi masyarakat pohon ini dikeramatkan dijadikan punden. Setiap malam satu syura selalu diadakan ruwatan desa dengan menanggap wayang. Pernah ada cerita ada salah satu kepala desa yang tidak percaya akan hal tersebut, tidak ada wayang waktu itu. Desa tiba-tiba diserang bencana angin ribut rumah-rumah warga banyak yang rusak. Terlepas memang bencana alam tapi warga meyakini bahwa itu adalah akibat tidak diadakannya sedekah desa. Sejak saat itu tidak pernah absen untuk mengadakan sedekah desa. 

         Malam makin larut, sepi kian terasa sedang apa dia disana juga tidak ada yang tahu, yang kutahu dia adalah seorang yang menyukai sepi. Itu hanya tafsirku saja, barangkali ia punya maksud lain aku juga tak tahu, bahwa dalam sepi itu justru ia mendapatkan keramaian dalam dirinya, mungkin bisa begitu mengingat ia selalu muncul ketika keadaan desa sepi sunyi. 

         Pernah suatu kali aku menjumpainya pada malam yang sedang gerimis. Aku yang baru pulang dari rumah teman sengaja ingin menghampirinya mengajaknya ngobrol. Ternyata dia sedang mancing di sungai kecil dengan air yang hanya sejengkal. “Apa ada ikannya?” tanyaku. Dia hanya melempar senyum kecil. Kuperhatikan ada kresek di gantung di pohon, beberapa ekor lele ada di dalamnya. Makin penasaran, “dapat disini juga?” ia hanya mengangguk sambil tersenyum. “Air cuma segitu kok bisa dipancing?” kulihat sungainya juga tidak ada pergerakan ikan sama sekali. “Jangan percaya pikiranmu, Percaya sama Gusti Alloh yang memberi makan”. 

        Aku kaget mendengar jawabannya sungguh diluar bayanganku, kuiyakan jawabannya sambil tersenyum sebelum kupamiti, aku tinggalkan rokokku yang masih ada beberapa, tapi ia menolak semua. Hanya mengambil satu saja.”Gak usah banyak-banyak satu saja cukup, dikasih kok minta semua. Suwun ya,”. Kembali jawabannya membuatku heran. Pada perjumpaan malam itu aku tahu, Apa yang dikatakan orang-orang bahwa ia gila ternyata tidak seluruhnya benar. 

        Tampilannya memang menyiratkan bahwa ia gila. Tapi mendengar jawabannya tidak disangka akan seperti itu. Tapi bagi Sebagian orang jawabannya ngelantur ditambah tampilannya yang memang tidak karuan, ada juga yang mengatakan kalau ngobrolnya di bawah jam dua belas malam omongannya ngawur, tapi di atas jam dua belas bak seorang ahli makrifat. Bukan tanpa sebab ia menjadi seperti itu, ia senang sekali berburu ilmu sayangnya tanpa ada guru yang mendampingi, menurut kesaksian tetanngganya ia yang hampir mati karena melakukan puasa penuh selama 7 hari tanpa makan dan minum, beruntung tetangganya ada yang mengetahuinya. Anak istrinya disuruh pulang ke rumah orang tuanya waktu itu, hingga dia sendiri berada di rumah. 

     Semenjak kejadian itu ia menjadi seorang yang menghamba pada kesunyian. Keluar hanya pada malam hari saja. Anak istrinya sudah pasrah, untuk kebutuhan sehari-hari istrinya bekerja di sawah sedang anaknya perempuan sudah bekerja di kota lain. Pernah suatu Ketika anaknya yang memang sudah dewasa meminta izin kepada Bapaknya untuk menikah. 

    “Pak aku mau menikah, calonku siap untuk datang kemari meminta restu kepada bapak ibu” ujar anaknya. Namun jawaban yang didapat sungguh diluar dugaan, sambil matanya berkaca ia menjawab “Jangan dulu nduk, wong bapakmu jek gendheng”. Sontak jawaban itu membuat anak gadisnya drop secara mental, sehingga memutuskan untuk keluar rumah. Orang-orang menertawakan jawaban tersebut, banyak yang berpikiran itu sesuatu hal yang lucu. Sebuah lelucon yang tidak lucu menurutku. 

       Menjelang subuh gerimis belum juga berhenti menari, sahut-sahut suara katak di sekitar punden Randu Alas makin nyaring, Barnawi yang sedari tadi mondar-mandir disitu tiba-tiba memeluk pohon tua tersebut, di rangkulnya erat meskipun kedua tangannya tidak mampu merangkul keseluruhan. Semakin erat ia merangkul pohon semakin deras hujan yang jatuh, diiringi sayup-sayup suara tarkhim dari masjid, subuh pun tiba dan hujan makin deras, Barnawi lenyap.


 *Mada Pamungkas.
Di tepi kali mas bulan menggelayut di dahan-dahan angsana
Desing mobil dan motor
Karena lapar adalah genderang perang
Tak ada iba di meja makan.

Minggu, 03 Mei 2020

Berita Kehilangan

Melalui speaker Musholla
Diumumkan dengan suara serak dan penuh desing "nging"

Berita kehilangan
Satu kompi ayam milik lik Joe Ramijoe moksa

Menurut dukun
Pelaku tidak jauh dari rumah
Diperkirakan hilang
ketika Hujan malam di bulan Juni

Semoga ia tidak menuduh lik Pardi.

*Mada Pamungkas
4/5/2020

Sabtu, 02 Mei 2020

Aktor Itu Telah Kembali.

Perjumpaan saya dengan mas bakir Ketika itu Komunitas Tombo Ati sedang pentas orasi ruang bersalin, karya Nanda Sukmana. Saat itu beliau bermain dengan Alfi Rizqoh dan Madhi. kalau tidak salah di Tahun 2011. Sebelumnya saya cuma dengar namanya saja dari senior-senior di Teater Ringin Conthong. Tidak banyak yang saya ingat dalam pentas tersebut.

Baru pada tahun 2012 kita dipersatukan dalam pertunjukan semar gugat karya N. Riantiarno di sutradarai mbah guru Imam Ghozali ar. Saya yang masih ingusan waktu itu banyak sekali belajar dari aktor-aktor senior KTA, ada Pak Irul, Bu jati Utami, Nanda Sukmana, Babe Yuke,  termasuk Mas Bakir juga.


Disitulah saya tahu kapasitas Mas Bakir sebagai aktor. Berperan sebagai Semar beliau begitu apik memerankannya. Kekuatan vocalnya begitu "ungkul" dibantu dengan olah tubuh yang mumpuni. Tokoh yang diperankan benar-benar hidup.  Beliau yang bernama asli Firman Hadi Fanani memberikan ruh di pertunjukan tersebut.

Seiring berjalannya waktu kita sering berproses bersama terutama setiap KTA melangsungkan ibadah teater. Saya banyak berguru kepadanya terutama pada teknik pernafasan dan olah vocal. Seorang yang juga sebagai penyiar radio dan juga bekerja pada tenaga sosial ini.  Karena saking akrabnya saya yang junior ini terkadang bersikap kurang ajar kepadanya. 

Dalam ruang yang longgar kadang memang sering nyek-nyekan, gojlok-gojlokan. Saya biasanya "menyerangnya" dengan sebuah diksi ngriwik ae -- bila ada Ukhil malah ramai jadinya. Bukan tanpa alasan, ini saya lontarkan karena beliau ini memang sering mencereweti apapun yang dirasa tidak membuatnya nyaman. Satu yang menjadi cirinya ketika sudah kalah dalam adu argumen (baca : olokan) beliau pasti menyambar rokok siapapun. Bila sudah begitu suasana menjadi pecah. 

Memang yang dilakukannya tak lebih dari komitmennya menjaga pertunjukan agar terlihat semakin baik. Dengan prinsip seperti itu beliau selalu menunjukan bahwa di panggung tidak sekedar "main-main". Beliau tidak mau terlihat asal-asalan. Mencereweti apapun yang tidak sesuai.


"Panggung teater itu sakral, aktor harus menghormatinya". begitu ujarmu kepadaku pada proses Anarkis Itu Mati Kebetulan karya Dario Fo yang juga proses berteater terakhirmu di panggung fana ini.  Mas sekarang sampean pun tindhak. Semoga ibadah teatermu dan kebaikan lainnya diterima di sisi Alloh SWT. Terima kasih sudah menjadi guru bagiku. Panggungmu sekarang di Nirwana. 

*Mada Pamungkas



Selasa, 21 November 2017

KOMUNITAS TOMBO ATI

Tentang Komunitas TomboAti

Didirikan di Jombang, 3 Agustus 1996.
Hingga tahun 2016 telah memproduksi 39 pertunjukan teater dan musik. mendapatkan penghargaan penyaji terbaik Festival Teater Nasional di Bandung tahun 1996, dengan lakon Makam Bisu sutradara Imam Ghozali, A.R. Selain mementaskan naskah-naskah sendiri, Komunitas Tombo Ati juga mementaskan naskah-naskah dramawan Indonesia maupun dunia.

beberapa karya lakon yang pernah dipentaskan

Tujuh dosa mematikan (karya Imam Ghozali, A.R/ Sutradara Irul An)
Makam Bisu (karya Nasrullahi)
Bila (karya Irul AN)
Dokter Tiban ( Irul An)
TUK (Karya Bambang Widoyo SP 1998 dan 2013 pada festival seni surabaya)
NOL
JULIUS CAESAR (Karya William Shakespeare)
meraih 6 penghargaan dari 7 kategori dalam festival teater jawa timur di Mojokerto (2000) dipentaskan keliling di Surabaya, Jember dan Malang (september 2000) dan di Festival Seni Surabaya tahun 2004.
Pementasan lakon sang pengacara (karya Irul An)
Semar Gugat (karya N. Riantiarno2002 dan 2013)
Ngenteni Pinggir Terop
selanjutnya lakon sam pek engtay tahun 2006,
Kapai-kapai karya Arifin C Noor
Lebedinaya Pesna karya Anton Chekov,
Tekek karya Heru Kesawa Murti,
lawan catur karya Kenneth Sawyer Goodman,
Pasar Seret karya Heru Kesawa Murti,
Pentas Besutan Dokter Tiban karya Irul An,
Orasi Ruang Bersalin "perjalanan kedua" karya Nanda Sukmana,
Prasapa Mega Remeng FSS 2011 Karya Mu'anam, Suko Wardoyo Diryo, Irul An dipentaskan di jombang dan surabaya.
Beruang Menagih Hutang 2012 karya anton chekov sutradara alfi rizqoh pada acara kenduri teater jombang.
Dramatic Reading dr. Samsi karya Andjar Asmara 2014 di gazebo STKIP PGRI Jombang
Para Penjudi karya Nikolai Vasilevich Gogol saduran Rachman Sabur 2016 Sutradara Fandi Ahmad.

Dan saat ini sedang berproses dengan mengangkat kesenian asli jombang yaitu wayang topeng jatiduwur dengan lakon berjudul Wiruncana Murca karya/sutradara Fandi Ahmad. sebuah upaya mendekatkan masyarakat terhadap kesenian asli daerahnya biar tidak punah dimakan modernisasi. siap di pentaskan pada bulan desember 2017. 

Jumat, 19 Februari 2016

Puisi


Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi
Bukan, lebih cocok pasar demokrasi
Berebut partisipasi
Dapatkan kursi

Sekalipun beregu
Tapi tak utuh
Saling teluh

Pesta demokrasi
Bukan, sekali lagi pasar demokrasi

Begitu riuh
Berebut butuh
Jadi yang Satu


Jombang, 9 april 2014

Kamis, 18 Februari 2016

Puisi


Hijrah

Kereta melaju
yang terhempas dari stasiun
yang mengiris perjalanan
yang meninggalkan bekas pertemuan
Di tepi Rindu aku menunggu kembali

Hidup tak melulu menuruti keadaan
Bila kehendak membentur tembok, rotasi segerakan
Tunduk dan patuh pada waktu
Adalah mati pada kesia-sia an

Aku memilih hijrah
Mendiami barisan angan-angan
Menggenapi capaian anak tangga
Diantarkan kereta dan doa-doa