Tidak seperti biasanya memang kampung ini tidur lebih awal, biasanya masih ada beberapa orang diteras rumah saling bercengkerama atau di warung-warung juga masih ada manusia-manusia yang sekedar menunggu kantuk sambil main kartu.
Tapi tidak dengan Barnawi, suasana seperti ini lah yang dia cari, amatlah senang jika ia menjumpai kesepian. Tanpa ragu walau dingin menyerang ia keluar dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek di bagian lutut.
Tanpa memakai sandal. Tubuhnya yang kekar, raut wajah yang lebih tua dari usianya, rambut panjang keriting lusuh, berjalan sepanjang malam, tidak lupa rokok menyala di mulutnya.
Tidak ada yang dia kerjakan malam itu, hanya berjalan saja, dari jalan utama desa menuju gang-gang kecil, mondar-mandir begitu saja. Sampai pada waktu yang ia tentukan sendiri. Biasanya menjelang jam tiga pagi. Pada saat itu dia harus menuju sebuah tempat yang ia senangi, di bawah pohon randu alas di ujung desa.
Pohon itu katanya sudah ada sebelum desa ini ada, bagi masyarakat pohon ini dikeramatkan dijadikan punden. Setiap malam satu syura selalu diadakan ruwatan desa dengan menanggap wayang. Pernah ada cerita ada salah satu kepala desa yang tidak percaya akan hal tersebut, tidak ada wayang waktu itu. Desa tiba-tiba diserang bencana angin ribut rumah-rumah warga banyak yang rusak. Terlepas memang bencana alam tapi warga meyakini bahwa itu adalah akibat tidak diadakannya sedekah desa. Sejak saat itu tidak pernah absen untuk mengadakan sedekah desa.
Malam makin larut, sepi kian terasa sedang apa dia disana juga tidak ada yang tahu, yang kutahu dia adalah seorang yang menyukai sepi. Itu hanya tafsirku saja, barangkali ia punya maksud lain aku juga tak tahu, bahwa dalam sepi itu justru ia mendapatkan keramaian dalam dirinya, mungkin bisa begitu mengingat ia selalu muncul ketika keadaan desa sepi sunyi.
Pernah suatu kali aku menjumpainya pada malam yang sedang gerimis. Aku yang baru pulang dari rumah teman sengaja ingin menghampirinya mengajaknya ngobrol. Ternyata dia sedang mancing di sungai kecil dengan air yang hanya sejengkal. “Apa ada ikannya?” tanyaku. Dia hanya melempar senyum kecil. Kuperhatikan ada kresek di gantung di pohon, beberapa ekor lele ada di dalamnya. Makin penasaran, “dapat disini juga?” ia hanya mengangguk sambil tersenyum. “Air cuma segitu kok bisa dipancing?” kulihat sungainya juga tidak ada pergerakan ikan sama sekali. “Jangan percaya pikiranmu, Percaya sama Gusti Alloh yang memberi makan”.
Aku kaget mendengar jawabannya sungguh diluar bayanganku, kuiyakan jawabannya sambil tersenyum sebelum kupamiti, aku tinggalkan rokokku yang masih ada beberapa, tapi ia menolak semua. Hanya mengambil satu saja.”Gak usah banyak-banyak satu saja cukup, dikasih kok minta semua. Suwun ya,”. Kembali jawabannya membuatku heran.
Pada perjumpaan malam itu aku tahu, Apa yang dikatakan orang-orang bahwa ia gila ternyata tidak seluruhnya benar.
Tampilannya memang menyiratkan bahwa ia gila. Tapi mendengar jawabannya tidak disangka akan seperti itu. Tapi bagi Sebagian orang jawabannya ngelantur ditambah tampilannya yang memang tidak karuan, ada juga yang mengatakan kalau ngobrolnya di bawah jam dua belas malam omongannya ngawur, tapi di atas jam dua belas bak seorang ahli makrifat.
Bukan tanpa sebab ia menjadi seperti itu, ia senang sekali berburu ilmu sayangnya tanpa ada guru yang mendampingi, menurut kesaksian tetanngganya ia yang hampir mati karena melakukan puasa penuh selama 7 hari tanpa makan dan minum, beruntung tetangganya ada yang mengetahuinya. Anak istrinya disuruh pulang ke rumah orang tuanya waktu itu, hingga dia sendiri berada di rumah.
Semenjak kejadian itu ia menjadi seorang yang menghamba pada kesunyian. Keluar hanya pada malam hari saja. Anak istrinya sudah pasrah, untuk kebutuhan sehari-hari istrinya bekerja di sawah sedang anaknya perempuan sudah bekerja di kota lain.
Pernah suatu Ketika anaknya yang memang sudah dewasa meminta izin kepada Bapaknya untuk menikah.
“Pak aku mau menikah, calonku siap untuk datang kemari meminta restu kepada bapak ibu” ujar anaknya. Namun jawaban yang didapat sungguh diluar dugaan, sambil matanya berkaca ia menjawab “Jangan dulu nduk, wong bapakmu jek gendheng”. Sontak jawaban itu membuat anak gadisnya drop secara mental, sehingga memutuskan untuk keluar rumah. Orang-orang menertawakan jawaban tersebut, banyak yang berpikiran itu sesuatu hal yang lucu. Sebuah lelucon yang tidak lucu menurutku.
Menjelang subuh gerimis belum juga berhenti menari, sahut-sahut suara katak di sekitar punden Randu Alas makin nyaring, Barnawi yang sedari tadi mondar-mandir disitu tiba-tiba memeluk pohon tua tersebut, di rangkulnya erat meskipun kedua tangannya tidak mampu merangkul keseluruhan. Semakin erat ia merangkul pohon semakin deras hujan yang jatuh, diiringi sayup-sayup suara tarkhim dari masjid, subuh pun tiba dan hujan makin deras, Barnawi lenyap.
*Mada Pamungkas.